Jumat, 06 April 2018

Menambal Mental Keropos Mahasiswa


“Menjadi mahasiswa adalah menjadi tulang punggung bangsa. Jika keropos, runtuhlah negara.”
Erina B. Purwantiningsih

Mahasiswa pada dasarnya adalah kaum intelektual idealis yang “kelahirannya” menjadi tonggak laju kehidupan. Bukan hanya sekedar mengejar ilmu di bangku perkuliahan demi karir cemerlang, namun juga sebagai perombak paradigma masyarakat.
Masih sering kita dengar bahwa pendidikan bukanlah hal utama dalam pencapaian ke arah lebih baik dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengingat kian terangnya kasus yang didalangi rayap-rayap berdasi dalam merong-rong negeri sendiri. Dan dalangnya tiada lain adalah mantan mahasiswa. Nama ‘mahasiswa’ kembali dipertaruhkan esensinya.
Melihat realita mahasiswa yang dipuja sebagai tonggak kemajuan suatu bangsa sampai saat ini masih menjadi pertanyaan bagi masyarakat luas, tidak terlepas dari wilayah Kota Patria, Blitar Raya. Bukankah suatu keharusan bagi mahasiswa untuk berperan aktif dalam kontrol kebijakan yang dibentuk oleh pemerintah?
Menoleh di beberapa perguruan tinggi maupun sekolah tinggi negeri dan swasta di kota Blitar, budaya apik mahasiswa yang terekam masih buram. Mahasiswa masih terbawa arus hedonistik, pragmatik, dan tinggi elit terhadap lingkup sekitarnya. Walaupun ada yang berpemikiran kritis dan solutif tentu dapat terhitung jari, itupun mereka yang aktif berorganisasi baik intra maupun ekstra kampus.
salah satu kegiatan positif mahasiswa dalam melestarikan budaya daerah
(Kampus 3 Universitas Negeri Malang)

Sangat disayangkan, mahasiswa ialah harapan masa depan bangsa yang seharusnya melek lingkungan dan dan segala dinamisme di dalamnya, sehingga akan mudah tanggap dengan keadaan serta mengusung perubahan. Tak hanya itu, mahasiswa juga sebagai palu intelektualitas dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya untuk menjadi pemecah permasalahan.
Lantas, apa fungsi hakiki mahasiswa itu?
Apabila kita telisik lebih dalam, peran mahasiswa menjadi salah satu pokok penting dalam menghadapi permasalahan di lingkup masyarakat. Berpemikiran kritis disertai gagasan yang solutif menjadi hal yang harus diampu oleh mahasiswa. Selain berbekal dari wawasan yang diperoleh di kampus penting juga memahami persoalan di sekelilingnya. Pada dasarnya, bersikap kritis dapat terasah karena adanya penyelewengan tata aturan. Sebagai mahasiswa yang antik, solusi konkret perlu disertakan. Mahasiswa juga dituntut untuk provokatif proaktif dengan bersikap kritis dalam menanggulangi permasalahan serta ambil bagian dalam wadah diskusi. Misalnya melalui forum jajak pendapat atau dapat juga via social media. Mahasiswa dapat merumuskan permasalahan kemudian mengungkap jalan keluarnya disertai perilaku nyata.
Intinya, mahasiswa merupakan lakon harapan bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan para mahasiswa, rezim orde baru berhasil ditumpas dan berganti era reformasi. Harapan era reformasi 1998 perubahan sistem pemerintahan harus dirombak. Asal mahasiswa dapat menyatukan pola pandang untuk bersatu.
Di sisi lain, mahasiswa juga sebagai pemberdaya perubahan bangsa. Bukan hanya sebagai pengamat adanya celah-celah ketimpangan dalam masyarakat namun bisa menjadi pelurus persoalan. Mengingat mahasiswa juga merupakan bagian dari masyarakat. Dari segi aplikatif ilmu, mahasiswa juga sekiranya dapat mengamalkan pengetahuannya dalam kehidupan. Seperti yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi poin ketiga.
Sudah saatnya mahasiswa meleburkan cara berfikir untuk kepentingan khalayak ramai. Berlaku hedonis, pragmatik, dan meninggikan elit adalah dinding penghalang mahasiswa untuk bertindak sebagai pejuang emansipasi. Persoalan program pendidikan, jurusan, fakultas, ataupun perguruan tinggi bukanlah alasan untuk beraksi menggunakan intelektual dan mentalitasnya untuk membangun suasana masyarakat yang ramah aturan serta pemerintahan yang peduli keadaan.
Begitu pula tentang pengembangan potensi diri. Mahasiswa memanglah perlu mendalami ilmu di bangku perkuliahan sebagai bekalnya mengabdi di masyarakat nantinya. Di lain hal, terkait sektor peningkatan kesejahteraan daerah, mahasiswa juga diharapkan mampu menyokong perekonomian kreatif seperti dengan membuka usaha atau mengembangkankan karya sesuai bidangnya serta potensi di daerahnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan meningkatkan standar hidup daerah bahkan pada skala nasional. Pelaksanaannya juga dapat berlandaskan pada program terapan pemerintah daerah setempat, sehingga pengambilan peran sebagai mahasiswa menjadi penekan angka ketergantungan pemerintah yang berujung pada menipisnya angka pengangguran.
Tidak perlu melihat mahasiswa apa dan siapa untuk bergulat di bidangnya. Tapi untuk keseluruhan mahasiswa di bumi Indonesia, bumikan Tri Dharma dan mari mengudara!

(Erina Budi Purwantiningsih – S1 PGSD 2015 KSDP FIP UM)

Jumat, 29 Desember 2017

SEKILAS BATAS PENDIDIKAN DI S1 PGSD UNIVERSITAS NEGERI MALANG

(Artikel ini dipublikasikan oleh intipjurusan.com pada Desember 2017)
Salam dari pelurus generasi penerus! Sebelumnya, perkenalkan nama saya Erina Budi Purwantiningsih. Saya mahasiswi PGSD Universitas Negeri malang angkatan 2015. Seperti ulasan jurusan serta kampus yang ditulis teman-teman sebelumnya, kali ini saya akan sedikit membuka pintu pengetahuan kalian mengenai prodi saya yakni Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Malang. Apa itu prodi PGSD? Bagaimana prospek kedepannya? Serta beberapa bahasan lain yang semoga memberikan bantuan wawasan bagi rekan-rekan yang akan mengambil prodi ini selanjutnya. So, lets open your mind.
Offering F5 PGSD UM saat kegiatan porseni

Blitar, Jatim: Universitas Negeri Malang adalah sebuah universitas Negeri di kota malang Jawa Timur. Selain memiliki kampus induk yang megah di Jalan Semarang No. 5 atau yang lebih akrab kampus ngarepe matos karena memang berdiri di depan sebuah mall besar di jantung kota Malang, Universitas Negeri Malang juga memiliki kampus peranakan atau kampus cabang yang ada di Jalan Ki Ageng Gribig No 45 Sawojajar Malang (PP 2) dan kampus di Jalan Ir. Sukarno No. 1 Kota Blitar (PP3).
PP2 dan PP3 merupakan kampus yang dikhususkan untuk jurusan KSDP yang meliputi prodi PGSD dan PGPAUD. PP2 juga sebagai kampus utama dalam pelaksanaan segala kegiatan dan administrasi jurusan KSDP FIP UM.
Selebihnya, mari berkenalan lebih lanjut dengan PP3 Universitas Negeri Malang (
PP3 UM seperti yang dijelaskan sekilas di atas, merupakan kampus cabang Universitas Negeri Malang  di Kota Blitar Jawa Timur yang menaungi prodi PGSD. PP3 UM dipimpin oleh Ka-PP3 (Koordinator Program Pelaksana 3) Ibu Sutansi M.Pd dan sebelumnya dipimpin oleh Bapak Alif Mudiono, S.Pd, M.Pd  .
PP3 berdiri di kota budaya dan pariwisata yang menjadikannya strategis dalam hal pembelajaran. Mahasiswa PP3 juga bisa menambah wawasan kebudayaan dan tradisi yang ada di Kota Blitar selain hanya pengetahuan di bangku perkuliahan. Mengingat di Blitar juga banyak dilakukan kegiatan kebudayaan seperti Grebeg Pancasila, Blitar Jadoel, Theather Kebangsaan, dan lain sebagainya. Sehingga didapat poin plus bagi mahasiwa PGSD PP3 sendiri.
Selain itu dalam pengembangan bakat dan minat mahasiswa PP3, terdapat pula berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti Banjari, MP3 PP3, Spion duty, UAM Musik, Karawitan, dan lain sebagainya.




Saya saat mengikuti Grand Final Puteri Kampus 3 UM 2017

Lalu, apa keunggulan mahasiswa Prodi PGSD?
Mahasiswa PGSD yang menjadi bakal pendidik adalah pelurus generasi penerus. Bermodal keterampilan general di berbagai bidang ampu, seperti kemampuan menguasai pembelajaran kelas, penanganan laku siswa, public speaking, statistika, komputer, kepramukaan, musik, tari, kerajinan, karya tulis, pengelolaan laporan dan lembar evaluasi, administrasi, olah raga, bahkan keterampilan penanganan Anak Berkebutuhan Khusus turut menyumbang keunggulan produk PGSD. Profil lulusannya pun harus mengacu pada Standart Kompetensi Guru Kelas (SKGK) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan kecakapan beragama, pelaksanaan dan penilaian proses pembelajaran di kelas, penguasaan materi pembelajaran, handal dalam menerapkan didaktik metodik dan penelitian tindakan kelas, serta lihai berkomunikasi empatik dalam kehidupan masyarakat. Selebihnya, mahasiswa PGSD juga dituntut menguasai lima pokok ajar yakni Bahasa Indonesia, Matematika, PKn, Ilmu Sosial, Ilmu Alam, dan berbagai mata pelajaran pendukung lainnya.
Lantas, mata kuliah apa yang paling berkesan?
All of things there were amazing. But i loved  arts a lot. Pembelajaran seni adalah paling saya gemari. Selian sebagai oase diantara pengajaran tentang ilmu-ilmu keguruan serta pelaksanaan pembelajaran yang tepat di kelas, pengajaran seni yang meliputi seni sastra, seni gambar, dan seni musik menjadi favorit tersendiri. Mempelajari not-not angka lalu membuat lagu serta alat musik sendiri, setelahnya mahasiswa harus menjadi aktordan aktris video clip lagu ciptaannya sendiri. Dalam seni sastra, mahasiswa diajarkan mengungkapkan nilai, norma, dan moral dengan kemasan kata yang cantik untuk siswa sekolah dasar serta langkah apresiasi karya. Dan dalam seni gambar, mahasiswa diajarkan menggambar banyak hal mulai dari seni gambar abstrak, karikatur, cerita berseri, dan gambar imajinatif yang mengandung unsur pembelajaran tentunya penuh kreasi.
Mengenai tugas dalam menempuh pendidikan di PGSD, tentu utamanya laku agung perlu selalu dijunjung. Tidak hanya dalam perkuliahan, namun juga di kehidupan sehari-hari. Hal ini demi terciptanya generasi pelurus yang mumpuni dan siap mendidik siswanya kelak.
Jadi, lepas kesahmu dan tambat semangatmu! PP3, ande!

Oleh:
Erina Budi Purwantiningsih
PGSD Universitas Negeri Malang 2015

Selasa, 19 Desember 2017

Panorama Cinta, Sebuah Catatan Amatan Sosial Erina Budi Purwantiningsih

Maret 2017 lalu, Forum Aishiteru Menulis Indonesia atau yang lebih dikenal dengan FAM Indonesia, menggelar gebyar launching 60 buku terbitan FAM Indonesia. Acara yang digelar di perpustakaan daerah Kabupaten Kediri di kota Pare yang dibarengi dengan lomba baca puisi siswa SMP/Mts sederajat se Kabupaten Kediri terbilang cukup meriah. Pembacaan puisi yang menarik dan sangat total oleh para peserta membuat pengunjung bertepuk riuh.
Pelaksanaan launching buku ada di sela-sela pembacaan lomba puisi. Salah satu buku yang diluncurkan adalah Panorama Cinta karya Erina Budi Purwantiningsih (ig: @erinabudi_). Erina adalah mahasiswa PGSD Universitas Negeri Malang tahun 2015. Kecintaannya pada dunia literasi semenjak bangku SMA.
Erina Budi Purwantiningsih saat menyampaikan sekilas tentang bukunya "Panorama Cinta"

"Panorama Cinta adalah buku tunggal pertama saya. Terima kasih kepada FAM yang telah menerbitkannya. Buku ini terinspirasi dari amatan sosial di sekitar saya tentang cinta dan bagaimana menemukan cinta yang saya gambarkan lewat cerpen dan puisi, bukan pengalaman pribadi saya." Ujarnya kala menyampaikan secara umum bukunya tersebut.

Buku Panorama Cinta memberikan dampak yang baik baginya terutama motivasi menulis. Menulis itu nagih! Kata Erina.

Minggu, 17 Desember 2017

Catatan Perjalanan Erina: KA Penataran Pagi Itu

Hari ini aku harus kembali menuju patria raya. Tugasku mengisi materi kepenulisan puisi dalam diklat MP3 FIP UM 2017 telah purna. Seperti biasa, daripada memilih naik bis aku lebih condong pada kereta api yang lebih nyaman dan aman, bagiku. Aku sedikit trauma dengan tradegi pencopetan di bis yang berlangsung tepat di depanku dan aku tak dapat berbuat apapun. Syukurku teramat penuh kala itu, bukan aku sasarannya.
Sumber: google.com

Aku menulis ini di sebuah gerbong kereta api Dhoho dengan tujuan stasiun Blitar dari Malang. Tepatnya aku ada di gerbong 4 kursi 10E sekarang. Tahukah? Ini bukan tempat dudukku, seseorang dengan sukarela berbagi tempat duduknya denganku. Aku tak mengetahui namanya, seseorang laki-laki berpakaian batik biru dengan jam tangan hitam. Kurasa dia pegawai kantor. Terima kasih sekali.
Sebenarnya aku pun mendapat kursi duduk, di 10 B. Hanya saja deret kursi itu penuh di tempati. Aku sudah bertekad berdiri kala itu dan seseorang memanggilku lantas menyerahkan kursinya. Dia akhirnya duduk di tepi kursi yang sebenarnya cukup untuk 2 orang saja. Mengingat sebelumnya, sudah ada seorang ibu duduk di kursinya.
Aku teramat mengucap syukur. Di era kini, kepedulian masih mengakar. Bahkan pada jiwa muda. Semoga aku menemui kebaikan-kebaikan lainnya yang membawaku pada laju putih. Semogaku. */ern

Minggu, 03 Desember 2017

Aku tak akan lusuh, kau tahu?

Sudah lama aku tak menandangkan penaku pada secarik kertas. Mengapa? Kurasa aku terlampau bahagia untuk menyambut elok hariku dibanding menuangkan keluhku yang tak sanggup kuucap. Dan akhirnya, aku kembali menuangkan ceritaku.
Aku tengah bersambut dengan purnama merah. Awan tipis tampak berjalan melewatinya, pelan. Seolah mengabarkan bahwa dalam hidup tiada perlu mengungkap gundah. Waktu yang akan usaikan, melajulah saja.
Benar. Hari ini purnama ke 10 di tahun ini. Aku duduk pada dipan bambu yang tadi siang baru di letakkan ayahku di sana. Seorang diri. Menyesap kopi manis sambil menuliskan catatan kecil untuk perkuliahan esok lusa. Isinya sederhana saja, tentang poin presentasiku pada mata kuliah Metodologi Penelitian. Jujur saja, pembelajaran itu acapkali membuatku menguap saat di kelas. Seolah imajinasi menulisku dikekang kuat dengan aturan-aturan penulisan penelitian. Aku kehilangan bebas.
Sudahlah. Aku awalnya ingin menceritakan pasal temanku. Terserah kau ingin menyebutnya siapa. Tapi, aku akan menyebutnya jarum. Mengapa? Aku menganggapnya berguna dan menyimpannya dengan apik, tapi ternyata dia menoreh luka padaku.

Sumber gambar: google.com

Suatu pagi yang cerah di kampusku, aku sengaja memilih duduk di bangku paling belakang kelas dengan harapan bisa mengerjakan tugas kuliahku yang lain tanpa sepengetahuan dosen. Dan pagi itu ternyata si jarum menjadi presentator. Pelan-pelan dia membagikan 'handout' materinya kepada teman-temanku sambil tertawa. Tiba saat ia di sampingku, kebetulan saat itu yang duduk di bangku belakang hanya aku. Dengan menyebalkannya dia berkata, "jangan sampai kamu nanti bertanya saat aku presentasi."
Secara otomatis pandanganku tajam ke padanya. Dan dengan tenang pula aku tersenyum. Tidak! Bukan aku menuruti ujarnya. Setahuku, itupun dari sampaian teman-temanku dia menganggapku dan seorang rekanku lainnya (sengaja tidak saya sebutkan) sebagai rival terumitnya. Entah itu benar atau tidak semula aku ragu tapi dia membuktikan ucapan yang kudapat itu.
Aku bukan pendendam. Sekali lagi kukatakan, aku bukan pendendam! Aku bahkan tiada ambil pusing untuk masalah itu. Hanya, aku berinisiatif meruntuhkan sikap menyebalkannya yang seolah sengaja untuk membuat mentalku turun. Sekalipun adanya aku semakin kukuh setelahnya.
Dan aku punya cara berkualitas untuk itu.


(Next, to be continue)

Senin, 09 Oktober 2017

Sebuah Kisah (3): Terus Berdiri

Setiap orang berhak mengungkapkan "kelemahannya" saat ia merasa dayanya habis. Kurang lebih aku menyetujui pernyataan itu. Aku bukan ingin menunjukkan kelemahanku, tunggu, tidak ada manusia yang ingin diketahui kelemahannya, tidak satupun. Namun, ada kalanya ia ingin orang lain tahu bahwa menanggung sendiri itu teramat berat adanya dan ia pun berhak berujar, "temani dan bantu aku." Sekalipun ia berkata nyalang di dalam hatinya, untuk dirinya sendiri.
Kuharap ada angin segar yang membisikkan padaku bahwa menjadi terbuka tehadap dunia adalah cara hidup bahagia. Kuharap aku percaya bahwa tak perlu memikul berat menjuntai dan berusaha mengurainya sendiri. Aku butuh melepas lelah, aku butuh duduk, dan aku butuh... bersandar.
Maka yang perlu kulakukan adalah meletakkan penak di penopang yang kokoh, yang sanggup menahanku dan menjaga tegakku. Kuharap alat topangku sekokoh karang, ia tak elak mengaduh walau badai memburu. Kuharap alat topangku adalah langit, yang sudi hidup bersama topan. Dan kuharap alat topangku adalah, kau. Aku ingin terus berdiri. */ern

Sebuah Kisah (2): Aku Siap

"Jika pengharapan tak pernah ada di dunia, kurasa aku sudah membunuh diriku karena rinduku teramat menggebu."
Patria, 2017. Tak ada yang berbeda, seperti biasa langit berwarna biru muda dan sayup angin masih lembut beradu dengan sorot kasar matahari yang masih menunggu. Bayanganku jauh menembus batas, kulihat lautan lepas masih tenang membawa kapal-kapal melaju ke tuju. Dan kukatakan, aku masih sama seperti diriku yang melambai pada "diriku yang lain" di gelap malam yang ranum.
"Dengarlah, aku tengah merindu."
Ah, kurasa menjadi wanita pun harus tahan banting. Tak mudah mengungkap susah, berkata lelah, apalagi mengucap menyerah. Tidak!
Hei kau, jika hatimu bertanya seberapa siapkah aku menebalkan tekadku untuk selalu terjaga, jawabku adalah, "aku siap sedia." */ern

Menambal Mental Keropos Mahasiswa

“Menjadi mahasiswa adalah menjadi tulang punggung bangsa. Jika keropos, runtuhlah negara.” Erina B. Purwantiningsih Mahasiswa pada ...